Monthly Archives: May 2008

DIKLAT SAMEOLEC-Training/Workshop on Web-based Course Developmen

Euis Siskaningrum

Saturday 17 May 2008

Akhirnya selesai juga,Tapi sayang file producer yang saya buat ga bisa tampil, bentuk filenya ketika di upload adalah tanda tanya, mungkin ada langkah-langkah yang salah ???????? Ada yang bisa bantu ?

karena ketrbatasan waktu dan ketrmpilan ( terutama emang karena keterbatasan ketrampilan 😀 hihihi) memang latihan yang dibuat hanya sedikit

rencana materi 3 minggu ke depan:

MEmperbaiki unit 1 (Herzlich Willkommen) beserta latihannya

Melanjutkan ke :

Unit 2 (An er Rezeption)

Unit 3 (Rund um Firma)

Unit 4 (Am Telepphone)

Beserta latihannya,

Mohon bantuan Tim Seamolec dan teman teman lain

Terima kasih……

Thursday 15 May 2008

HOREE akhirnya berhasil juga, jadi satu juga satu latihan, walau mit Acht und Aracht.

Tapi sayang tampilan powerpointnya belum ada audio seperti yang saya rencanakan, karena file audionya dalam bentum AMR dan ga ada program pendukunngnya buat konversi. sebenarnya hanya audio sederhana saja, tapi mike buat ngerekamnya juga ga jalan, sayang …. sekali… 😦 hiks hiks )

Actually I’ve followed such course in Goethe Thailand, but still it is as difficult as the first time. to be honest penyampaian materinya bagusan di semeolec ini, mungkin juga karena penyampaiannya bahasa Indonesia, hehehe. Tapi memang harus didukung oleh server untuk bisa prakteknya. mudah-mudahan kali ini p4tk benar-benar bikin servernya.

Wednesday 14 May 2008

So little time so much to do, ngumpulin materi, berusaha memahami pembuatan media, mba Anti cepet banget lagi ngajarnnya, keteteran deh. yang penting program mapping hampir selesai, kumpulan soal dah ada, walau belum sempurna yang penting ada sample saja ….:)

Tuesday 13 May 2008

Day one, the vision of training a lot of number of teachers and in really flexible way as have been discessed today is really interesting. I really unpatient to wait for practising it. but overview of ICT and ODL Standards and other relevant things before start, as the trainer giving today is also important.

BAHASA ASING DI SMK, MENGAPA TIDAK?

“ Menguasai lebih dari satu bahasa asing” kalimat ini semakin sering kita jumpai dalam syarat lowongan kerja dewasa ini. Tentu saja hal ini adalah hal yang lumrah mengingat dengan era globalisasi dalam dunia kerja kita seringkali harus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dari berbagai negara. Tentu kerjasama tersebut akan lebih lancar seandainya kita menguasai bahasa klien kita.

Study tentang bahasa asing

Tentu untuk berhasil di dunia kerja bukan satu-satunya alasan mengapa kita sebaiknya belajar bahasa asing. Penelitian membuktikan bahwa belajar bahasa asing dapat melatih otak kita dan mengurangi resiko cepat pikun di hari tua. Anak-anak yang belajar bahasa asing cenderung memiliki perkembangan kognitif, kreativitas dan pemikiran yang luas yang lebih baik dibanding anak-anak yang monolingual. ( Bruck, Lambert dan Tucker, 1974; Hakuta, 1986; Weatherford, 1986)

Secara akademis studi juga menunjukkan bahwa belajar bahasa asing meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami bacaan, menulis dan matematik. Study yang dilakukan pada tahun 1994 di sekolah umum kota Kansas menunjukkan bahwa siswa yang mempelajari bahasa asing meningkat kemampuan akademisnya secara signfikan (Eaton, 1994). Selain itu otak manusia ternyata mampu menguasai sampai tujuh bahasa secara aktif. Jadi sudah berapa persen kapasitas otak kita gunakan?

Bahasa Asing di SMK

Sejak diberlakukannya kurikulum baru di SMK , dimana jam bahasa asing ditambah menjadi 330 jam, banyak SMK yang mulai memberikan pelajaran bahasa asing. Hal ini tentu hal yang menggembirakan mengingat penguasaan bahasa asing bagi siswa SMK adalah hal yang cukup penting. Dengan mengenal bahasa asing, kepercayaan diri siswa untuk bersaing di dunia kerja meningkat. Selain itu kesempatan siswa untuk mencoba mencari kerja di luar negeri juga bertambah. Hal ini bukan hal yang mustahil dilakukan di era internet saat ini.

Bahasa Jerman? Mengapa tidak?

Dengan bahasa Jerman yang tersebar di negara- negara berbahasa Jerman seperti Jerman, Austria, dan daerah-daerah yang berbatasan dengan eropa timur, bahasa Jerman merupakan bahasa dengan penutur terbanyak di Eropa, diikuti oleh bahasa Prancis, Italy baru kemudian Bahasa Inggris.

Indonesia juga sudah sejak lama menjalin kerjasama dengan Jerman, banyak perusahaan- perusahaan Jerman yang memiliki perwakilannya di negeri ini. Hal ini dimungkinkan terutama dengan adanya kamar dagang Jerman (Ekonit) yang ada di Jakarta. Selain itu Goethe Institute yang tersebar di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta juga menyajikan kemudahan dalam belajar bahasa Jerman melalui fasilitas-fasilitas seperti kursus bahasa, perpustakaan dan lab bahasa yang dapat diakses oleh pengunjung, ditambah lagi dengan program-program budaya yang secara rutin diselenggarakan. Informasi mengenai program-programnya dapat dengan mudah kita akses di http://www.goethe .de

Bagi pelajar yang ingin melanjutkan kuliahnya ke luar negeri, menguasai bahasa Jerman tentu memperluas kemungkinan tersebut. Calon Mahasiswa dapat memilih negara Jerman yang terkenal dengan tekhnologinya, atau Austria dengan program studi di bidang ilmu sosialnya yang cukup terkenal atau Swiss yang menjadi tempat belajar di bidang perhotelan.

Keuntungan lainnya, Jerman masih merupakan salah satu negara dimana mahasiswa dapat kuliah dengan gratis. Selain itu banyak beasiswa yang ditawarkan seperti dari Goethe Institute, DAAD, dan yayasan-yayasan Jerman, Swiss atau Austria.

Program Au-Pair

Belajar bahasa asing akan lebih mudah bila kita belajar di negara asalnya. Tetapi tentu hal itu sulit bagi kita mengingat kurs rupiah yang tidak terlalu menguntungkan dibanding nilai mata uang dari negara-negara lain di Eropa. Apalagi bagi siswa atau mahasiswa yang belum berpenghasilan. “Dimana ada kemauan, disitu pasti ada jalan” peribahasa ini seringkali terbukti kebenarannya. Bagi mahasiswa sastra Jerman baik dari UI, UNJ, UPI atau universitas-universitas lain, program au-pair ini bukan lah hal yang asing. Program ini menawarkan kemungkinan untuk tinggal di Jerman dalam sebuah keluarga selama 6 bulan hingga 1 tahun untuk peserta yang berusia 18 hingga 25 tahun. Selama peserta mengikuti program ini peserta diharuskan mengikuti kursus bahasa Jerman yang dibiayai oleh keluarga yang kita tinggali dan berhak atas uang saku, uang transport bis/kereta dan asuransi kesehatan. Sebagai gantinya peserta diminta untuk membantu menjaga anak atau pekerjaan rumah yang ringan lainnya. Akan tetapi hal itu tidak menjadikan peserta au-pair harus perempuan, banyak juga laki-laki yang telah mengikuti program ini.

Tiktik Wartika, Alumnus UPI yang sekarang menjadi pengajar bahasa Jerman di SMK mengatakan dengan mengikuti program au-pair banyak hal didapatnya, antara lain mengasah kemampuan bahasa Jerman, melatih kemandirian dan menambah wawasan. Banyak suka duka yang dialaminya selama dua tahun di Jerman. Tetapi pengalaman tersebut sangat berguna saat ia harus mengajar di kelas.

Di Jerman ada sekitar 30.000 Au-Pair setiap tahun dari berbagai negara, oleh karena itu ada banyak undang-undang dan peraturan yang harus diperhatikan. Program au-pair banyak diikuti oleh mahasiswa di sekitar eropa sendiri. Hanya sedikit negara yang menerima pendaftar dari luar Eropa, dan Jerman adalah salah satunya.

Sayangnya program au-pair ini tidak begitu dikenal di kalangan siswa SMK. Padahal mungkin lulusan SMK yang belum siap untuk melanjutkan kuliah atau terjun ke dunia kerja dapat memanfaatkan program ini untuk menambah wawasan dan memperdalam kemampuan bahasa Jermannya. Mengapa tidak?

Salah satu website yang dapat dikunjungi untuk informasi mengenai au-pair adalah http://www.aupairs.de

(Wijayakusuma Vol3 No6 2006)