Monthly Archives: March 2009

me and God

Do you believe on the existence of God? Mungkin sama dengan temen-temen lain di negeri kita yang berketuhanan yang Maha Esa, pertanyaan yang satu ini gak pernah mengusik gua. Bahwa Allah itu itu ada adalah peryataan yang kita take for granted. Never had I questioned His exixtence.

Tapi how do I believe in God and how we is our relation with the owner of this Greatest Power buat gua selalu berevolusi dari waktu ke waktu.

Image awal tentang Tuhan seingat gua sih waktu umur lima tahun atau kurang. Waktu itu gua tanya Mom : ”Bu hujan itu airnya dari mana sih?”

“ dari Allah” jawab my Mom singkat. Sejak saat itu setiap hujan gua akan melihat ke jendela dan membayangkan tangan raksasa numpahin air di langit dengan mug kaleng putih super besar bermotif bunga-bunga kaya punya bapak.

Saat tumbuh gede ( apanya nya nih.. ¿%&*@$% ya elah!) en gua mulai terpesona oleh buku-buku science fiction kaya ‘sphere, matrix and bahkan film ‘the bird’ dimana tokohnya bapak-bapak berkulit hitam dengan suara super bass, bayangan gua tentang Tuhan adalah seperti entitas yang punya kantor yang dilengkapin mesin-mesin mirip komputer super canggih, big n flat sreen everywhere, en malaikat-malaikat yang mondar-mandir ato sibuk di depan mesin masukin data-data kebaikan en keburukan every single makhluknya. Setiap sholat gua ngebayangin ngedial untuk long distance call di private line n mulai deh curhat dalam hati.

Suatu haru gua mengamati semut yang sibuk mondari-mandir berusaha menggotong remah-remah kue yang kebetulan rontok dari tangan. Tiba-tiba gua gak tahan ketawa geli. Gimana engga? Here we are, mati-matian kerja en berusaha supaya bisa lulus ulangan, bisa punya rumah, bisa punya mobil, sampe keringat en airmata tumpah (makanya bawanya ati-ati biar ga tumpah). Kita berdoa sepenuh hati, menuntut, setengah memaksa agar Allah membantu mewujudkannya, seakan-akan Allah ga ada urusan yang lebih penting dari sekedar remeh-remeh yang berusaha kita gotong. Ih…ga penting banget deh. Begitu mungkin menurut Allah.

Tetapi kemudian hati gua mulai bertanya-tanya lagi, gua ga peduli seandainya ada perang di belahan bumi yang lain, ada kelaparan, bencana alam super besar yang sebenernya disebabin ma kita juga. Mungkin tepatnya bukan tidak peduli, Cuma kadang emang nothing we can do juga sih. Tetep aja, keinginan-keinginan gua itu penting banget , super urgent. Ga peduli seremeh temeh apa, gua pengen Allah dengerin doa gua, ngabulin permohonan gua, me, moi, ich, ana, watashi…..! Gua, makhluk yang paling lovable, unique, among other billions.

Alhamdulliah, berdasarkan pengalaman, ternyata toh Allah mendengar doa-doa gua selama ini, bahkan doa-doa yang sudah lama dilupain, ternyata Allah ngga lupa, Allah tahu, tapi Dia menunggu. Misalnya aja dulu, masa gua masih jadi upik abu, gua pernah berdoa, kurang lebih begini:” Ya Allah, aku ihklas mengerjakan pekerjaan rumah demi keluarga, tetapi Ya allah, jagalah tangan dan jari-jari hamba agar tetap indah, halus dan tidak seperti tangan kuli ( aih lebay banget doanya..) dan hingga saat ini, hampir dua puluh tahun kemudian, tangan gua selalu menjadi part of the body i like most. Ada juga dulu, disaat gua narzis-narzisnya, gua pernah menghayal jadi penyiar radio yang cool n asik. Ternyata belasan tahun kemudian gua dapet kesempatan walau cuma seumur jagung karena harus realistis suara gua di mike ternyata mirip gagak mo kawin. Karena gua masih punya hati nurani dan gak sama sadisnya kaya idi amin, akhirnya gua dengan kerelaan hati mengundurkan diri ( out of the fact ternyata ngobrol ama tongkat, not mention black one, hii… jorok ( weh situ aja yang ngeres) di ruangan sempit n tertutup sama sekali gak cool n fun). En masih banyak lagi nikmat-nikmat Allah yang kalo dibikin list pake kertas fax juga ga bakal cukup.

Above all:

I Love you Allah , thanks for everything

Catatan: Ada yang pernah bilang bahwa kita tidak boleh membayangkan Tuhan sesuai prasangka kita, mungkin apa yang selama ini pikirkan itu salah, masalahnya adalah kaya orang Jerman bilang: ”die Gedangken sind frei”, kadang kita gak bisa ngendaliin pikiran kita. Pikiran-pikiran itu pop up begitu aja, kaya iklan spam di internet.Tapi gua juga sadar diluar semua prasangka gua tentang Allah, gua yakin, pada kenyataannya allah jauh, jauh lebih besar, lebih hebat, lebih, lebih dari segala yang bisa gua pikirin tentang Dia.

“ Maha suci Tuhan-mu, Tuhan yang Maha Perkasa dari sifat yang mereka katakana.” (180: Ash-Shaffat : 37)

Advertisements