Monthly Archives: August 2010

KISS OF LOVE

Wajah keriput menandakan ketuaan dengan garis-garis tegas menatapku dengan mata kecilnya. Aku menatap balik dan merasa terharu. Kapan terakhir kali aku menatap wajahnya, sungguh-sungguh menatap, bukan hanya melihat sekilas atau merasa menatap dengan pikiran yang entah kemana. Setahuku ada hadis yang mengatakan menatap wajah orang tua itu pahala, mungkin juga wajah suami atau istri. Entahlah aku tidak terlalu hapal hadis itu. Sekarang aku tahu mengapa menatap sepenting itu hingga diganjar pahala. Sebenarnya saat aku mendongak tadi aku merasa kesal. Mendengar komentarnya yang kurasa sangat tidak sensitif. Ketika kita sedang merasa tidak percaya diri dengan penampilan dan sibuk mengaca untuk meyakinkan, komentar tentang kekurangan kita, betapa terlihat kurusnya, betapa kulit kita tidak terlihat sehat, sama sekali bukan komentar yang kau butuhkan. Dan ini sudah ratusan kali selama puluhan tahun aku mendengar komentar-komentar negatif itu, seharusnya ia menyadari betapa komentar itu menyakitkan. Dulu mungkin menyakitkan, lama-lama menjengkelkan, hingga kau beberapa kali mencoba protes, lalu kau berusaha menyesuaikan diri dengan berusaha mengabaikan. Tetap saja kadang kau masih terasa kesal olehnya. Aku mendongak dengan kemarahan menggumpal di dada. Ingin bilang sebaiknya mami gak usah komentar kalau gak punya komen bagus. ingin bertanya kenapa mami begitu benci dengan penampilanku hingga selalu melontarkan kritik tajam. Tetapi saat aku menatap wajahnya. Yang kulihat adalah wajah tua yang lelah. Tidak ada kebencian disana. Ucapan mami mungkin maksudnya baik, agar aku merawat tubuhku dengan lebih baik. Lebih memberi perhatian pada penampilan. Aku melihat mami yang kesepian, yang mungkin tumbuh dengan celaan sehingga ia hanya bisa mencela walau tanpa bermaksud menyakiti. Yang hidupnya dipenuhi kesulitan-kesulitan hingga tidak memiliki kemewahan untuk berbasa-basi. Hidupku masih panjang untuk dapat mencari kebahagiaanku sendiri suatu saat nanti. Sementara mami sudah tua dan lelah melewati kepedihan-kepedihan hidup membesarkan anak-anaknya. Bila aku marah sekarang dan seterusnya karena kini aku memiliki kekuatan untuk marah, apakah sisa hidup mami harus dilewati pula dengan menerima kemarahan anak-anaknya. Bagaimana pun banyaknya yang tidak kusukai dari sikap mami, ia yang telah berjuang membesarkan kami. Menahan kepedihan karena ketidakberdayaan memberikan kami kecukupan, tetapi tetap berusaha. Kepedihan yang berujung kemarahan pada orang-orang yang menurutnya telah mempersulit hidupnya. Kemarahan pada sikap nakal anak-anak yang tidak memahami kesulitannya. Kemarahan yang memicu sikap yang selalu negatif kepada orang disekelilingnya. Lalu apa yang didapatnya? Respon negatif pula dari orang-orang yang tambah menyakiti hatinya. Aku menatap wajahnya. Wajah penuh guratan kesepian karena anak-anaknya yang diperjuangkannya menjauh dan lebih suka tidak dekat-dekat dengannya. Wajah tua yang kaku karena berusaha tegar menjalani hidup. Tiba-tiba aku dilanda kesedihan yang mendalam. Wajah itu seharusnya lembut dengan kebahagiaan. Melihat anak-anaknya sudah besar dan menjalani hidup yang lumayan baik, sehat, berpenghasilan, sebagian berkeluarga, dll. Wajah itu harusnya dipenuhi senyum karena perjuangannya hampir berakhir. Tetapi kehidupan kejam dan melelahkan mengguratkan bekas di sana dan sulit pergi. Membawa aura kepedihan seperti dementor penghisap kebahagiaan dari wajah orang di sekelilingnya. Tidak. Cerita gelap harus berhenti disini. Semua sudah selesai dan berakhir dengan bahagia. Semua harus bahagia apapun caranya. Aku menghampiri wajah itu. Meraihnya dengan kedua tanganku dan mengecup keningnya sambil tersenyum. ‘Mami walau kurus anakmu ini tetap cantik kok. Kan turunan. Kataku sambil memeluknya lembut. Mami menggumam terkejut dan kemudian tersenyum salah tingkah. Akan tetapi aku dapat merasakan binar kegembiraan di matanya. Aku tersenyum. Dalam hati aku berjanji akan berusaha selalu memberi senyum pada mami sekuat tenaga. one bright morning in 2009 (or so..)

Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu melihat seseorang menggendong ibunya untuk thawaf di Ka’bah dan ke mana saja ’si ibu’ menginginkan, orang tersebut bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?” Jawab Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, “Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu.” (Shahih Al adabul Mufrad no. 9) (http://mentari.blog.uns.ac.id/2010/02/03/sayangi-ayah-dan-ibu-mu/)

Wallahualam bissawab …:)

Advertisements