a little pray

…Ingin rasanya aku menyerah,
melepaskan ini semua dan
membiarkan diriku hilang
dalam ketidak-pedulian.

Tapi aku tak mungkin ikhlas
membiarkan jiwa baikku ini rusak.

Sebetulnya aku hanya letih
dan sedikit merasa tak disayangi

Tapi aku tahu,
Engkau mencintaiku.

Tuhan,
lapangkahlah dadaku,
teduhkanlah wajahku,
dan tinggikanlah derajatku

Aamiin

mario teguh fb status 04 feb 2011

Advertisements

Menjaga Hati Tawaadlu

Bila ditanya tentang profil, secara bercanda bercanda tapi dengan keyakinan penuh sering saya menyebutkan “baik hati dan tidak sombong”.  Saya bukan orang sombong, tinggi hati, suka membanggakan diri..that so not me..so I said. Masalahnya akhir-akhir ini saya menyadari kesombongan sering hinggap dalam bentuk yg halus n terselubung sehingga sulit dihindari. Ketika kita seakan-akan bersikap baik dan mengalah pada orang yang menzalimi. Dengan anggun dalam hati’ kita berkata tidak akan melayani hal itu, karena kita lebih baik dari orang-orang ini. Bukankah itu bentuk kesombongan kita, bersikap baik hanya karena kita merasa kita orang yang lebih baik, lebih unggul? Ketika kita cenderung memilih orang yang memiliki kesamaan dengan kita sebagai orang yang kita sukai, kita anggap ‘inner circle’ simply karena mereka ‘sama’. Bukankah itu bentuk kesombongan? Kita melihat refleksi diri kita dalam orang tersebut. Tanpa disadari itu bentuk perasaan unggul kita akan bahasa kita, dengan gaya hidup kita, dengan pemikiran kita, hobi kita, kebiasaan kita, sehingga kita insist orang yg kita sukai adalah orang yg memiliki kualitas tersebut, dan orang yang ‘berbeda’ kurang baik. Bukankah itu berarti yg kita suka dari mereka sebenarnya bagian dari kita sendiri? We see the piece of ourselves in them. Bentuk lain dari narsisme. Hey..what so great about me then? Ketika kita menghindari sekelompok orang, simply karena kita merasa lebih baik dari mereka, kita berpikir’ gak akan nyambung deh, males ah’. Hey hey..bentuk kesombongan lagi. Ketika kita bersikap baik pada seseorang, bergaul dengan orang tersebut dengan niat ‘mendakwahi mereka’, membantu mereka agar bersikap lebih baik.’hati-hati, jangan-jangan perasaan kita aja, kita lebih baik dari mereka. Ada pepatah tua Jawa: hargai tuan rumah dengan bertamu memakai pakaian yg terbaik. Hmm, apakah niat kita benar-benar ingin menghargai tuan rumah atau sekedar menunjukkan kita punya fashion sense yang relative lebih baik dari orang lain. Saat kita merasa lebih pintar, lebih berpendidikan, lebih baik hati, lebih sopan, lebih beradab, lebih memiliki tatakrama, lebih rajin, lebih cantik, bersuara lebih bagus, lebih pintar bergaul, lebih lebih lebih….. MasyaAllah..ternyata menjaga hati dari sifat membanggakan diri merupakan perjuangan berat sehari-hari. Padahal Allah tidak suka orang yang membanggakan diri. Allah menghukum kaum Aad karena kesombongannya. Nasib Firaun menjadi contoh apa yang dapat terjadi bila manusia bersikap sombong. Bahkan syetan pun terusir dari surga selamanya karena ia merasa lebih baik dari seorang Adam. Saat perasaan superior menghinggapi kita, saat itulah kesombongan menyelusup dalam kalbu..Nauudzubillah Waullohualam bissawab sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri (QS. 28:76)

picture in courtesy of fotosearch.com RF

Poem of the day

Good morning so he says
Give me a smile and walk away
have a nice day…
again he comes back to say

Before I come out with any word
he takes out his sword
and chops his own words to pieces

hey becareful with that blade
there might wound you could ‘ve made

somehow I manage to smile and blow kisses
wishing he’ll get all he wishes..

Siang itu seekor kupu-kupu terjebak didalam ruang sholat, diam menempel di jendela kaca tak bisa bergerak terbang keluar. Karena takut dengan serangga aku tak berani memegangnya, dengan selembar kertas hati hati ku dorong ia agar naik ke ventilasi udara, tetapi ia terus menghindar dan kembali menempel di kaca…dasar binatang pikirku, gak tahu ya kalau aku berusaha menolong..
pfuihh …kesabaranku hampir habis. setelah beberapa sat akhirnya aku berhasil juga kuarahkan dia ke ventilasi udara…dan brrrr…iapun langsung terbang keluar…tetapi..loh kok…kupu kupu itu kembali dan menempel di kaca bagian luar….
Hei hei apa kamu memang suka menjilat jilat kaca kah? ..tetapi kemudian aku tersenyum senang…hei apa kamu datang untuk berterima kasih..ok your grateful is accepted..terbanglah kembali dan mencari makan..pasti lapar setelah terjebak mungkin untuk waktu yang lumayan lama diruangan tadi…. kupu kupu itu pun terbang meninggalkanku yang tersenyum senyum senang..
Ya Allah betapa seekor serangga yang memiliki otak dan hati super kecil pun tahu berterimakasih..dan betapa senangnya aku menerima rasa terimakasihnya…aku saat ini menempel dikaca yang menghalangi aku dan Kau..berusaha menatapmu dan mengucapkan terima kasih..apakah kau tersenyum ya Allah?..
Mulai saat ini aku akan berusaha berterimakasih atas setiap kebaikan yang diberikan orang orang disekelilingku….
thank you guys for every little and big thing you do…
Wallahualam bi shawab

post in fb on Saturday, March 6, 2010
picture in courtesy of faysalspoetry.blogspot.com/2010_…ive.html

Search of Lover

Segera setelah aku mendengar kisah cinta pertamaku

Aku mulai mencari Mu, tanpa tahu

Betapa butanya itu

Pencinta tidak akhirnya bertemu di suatu tempat

Mereka ada dalam diri masing-masing selama ini

Essential Rumi

a pray of nightingle

Gelap malam berbalut sepi,

teriring doa tulus pengiring mimpi,

pelipur lara hati di tengah dalamnya sunyi…

selamat arungi samudra mimpi malam ini ya sweety…

Sawangan 14102010

KISS OF LOVE

Wajah keriput menandakan ketuaan dengan garis-garis tegas menatapku dengan mata kecilnya. Aku menatap balik dan merasa terharu. Kapan terakhir kali aku menatap wajahnya, sungguh-sungguh menatap, bukan hanya melihat sekilas atau merasa menatap dengan pikiran yang entah kemana. Setahuku ada hadis yang mengatakan menatap wajah orang tua itu pahala, mungkin juga wajah suami atau istri. Entahlah aku tidak terlalu hapal hadis itu. Sekarang aku tahu mengapa menatap sepenting itu hingga diganjar pahala. Sebenarnya saat aku mendongak tadi aku merasa kesal. Mendengar komentarnya yang kurasa sangat tidak sensitif. Ketika kita sedang merasa tidak percaya diri dengan penampilan dan sibuk mengaca untuk meyakinkan, komentar tentang kekurangan kita, betapa terlihat kurusnya, betapa kulit kita tidak terlihat sehat, sama sekali bukan komentar yang kau butuhkan. Dan ini sudah ratusan kali selama puluhan tahun aku mendengar komentar-komentar negatif itu, seharusnya ia menyadari betapa komentar itu menyakitkan. Dulu mungkin menyakitkan, lama-lama menjengkelkan, hingga kau beberapa kali mencoba protes, lalu kau berusaha menyesuaikan diri dengan berusaha mengabaikan. Tetap saja kadang kau masih terasa kesal olehnya. Aku mendongak dengan kemarahan menggumpal di dada. Ingin bilang sebaiknya mami gak usah komentar kalau gak punya komen bagus. ingin bertanya kenapa mami begitu benci dengan penampilanku hingga selalu melontarkan kritik tajam. Tetapi saat aku menatap wajahnya. Yang kulihat adalah wajah tua yang lelah. Tidak ada kebencian disana. Ucapan mami mungkin maksudnya baik, agar aku merawat tubuhku dengan lebih baik. Lebih memberi perhatian pada penampilan. Aku melihat mami yang kesepian, yang mungkin tumbuh dengan celaan sehingga ia hanya bisa mencela walau tanpa bermaksud menyakiti. Yang hidupnya dipenuhi kesulitan-kesulitan hingga tidak memiliki kemewahan untuk berbasa-basi. Hidupku masih panjang untuk dapat mencari kebahagiaanku sendiri suatu saat nanti. Sementara mami sudah tua dan lelah melewati kepedihan-kepedihan hidup membesarkan anak-anaknya. Bila aku marah sekarang dan seterusnya karena kini aku memiliki kekuatan untuk marah, apakah sisa hidup mami harus dilewati pula dengan menerima kemarahan anak-anaknya. Bagaimana pun banyaknya yang tidak kusukai dari sikap mami, ia yang telah berjuang membesarkan kami. Menahan kepedihan karena ketidakberdayaan memberikan kami kecukupan, tetapi tetap berusaha. Kepedihan yang berujung kemarahan pada orang-orang yang menurutnya telah mempersulit hidupnya. Kemarahan pada sikap nakal anak-anak yang tidak memahami kesulitannya. Kemarahan yang memicu sikap yang selalu negatif kepada orang disekelilingnya. Lalu apa yang didapatnya? Respon negatif pula dari orang-orang yang tambah menyakiti hatinya. Aku menatap wajahnya. Wajah penuh guratan kesepian karena anak-anaknya yang diperjuangkannya menjauh dan lebih suka tidak dekat-dekat dengannya. Wajah tua yang kaku karena berusaha tegar menjalani hidup. Tiba-tiba aku dilanda kesedihan yang mendalam. Wajah itu seharusnya lembut dengan kebahagiaan. Melihat anak-anaknya sudah besar dan menjalani hidup yang lumayan baik, sehat, berpenghasilan, sebagian berkeluarga, dll. Wajah itu harusnya dipenuhi senyum karena perjuangannya hampir berakhir. Tetapi kehidupan kejam dan melelahkan mengguratkan bekas di sana dan sulit pergi. Membawa aura kepedihan seperti dementor penghisap kebahagiaan dari wajah orang di sekelilingnya. Tidak. Cerita gelap harus berhenti disini. Semua sudah selesai dan berakhir dengan bahagia. Semua harus bahagia apapun caranya. Aku menghampiri wajah itu. Meraihnya dengan kedua tanganku dan mengecup keningnya sambil tersenyum. ‘Mami walau kurus anakmu ini tetap cantik kok. Kan turunan. Kataku sambil memeluknya lembut. Mami menggumam terkejut dan kemudian tersenyum salah tingkah. Akan tetapi aku dapat merasakan binar kegembiraan di matanya. Aku tersenyum. Dalam hati aku berjanji akan berusaha selalu memberi senyum pada mami sekuat tenaga. one bright morning in 2009 (or so..)

Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu melihat seseorang menggendong ibunya untuk thawaf di Ka’bah dan ke mana saja ’si ibu’ menginginkan, orang tersebut bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?” Jawab Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, “Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu.” (Shahih Al adabul Mufrad no. 9) (http://mentari.blog.uns.ac.id/2010/02/03/sayangi-ayah-dan-ibu-mu/)

Wallahualam bissawab …:)